MENGAPA HARUS MENIKAH

Kenapa Harus Menikah?

Berikut beberapa alasan mengapa harus menikah, semoga bisa memotivasi kaum muslimin untuk memeriahkan dunia dengan nikah.

1. Melengkapi agamanya
“Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. (HR. Thabrani dan Hakim).

2. Menjaga kehormatan diri
“Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya. (HSR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaiy, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

3. Senda guraunya suami-istri bukanlah perbuatan sia-sia
“Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 245; Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 309).

Hidup berkeluarga merupakan ladang meraih pahala
4. Bersetubuh dengan istri termasuk sedekah
Pernah ada beberapa shahabat Nabi SAW berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat; mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa; bahkan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah memberikan kepada kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Pada tiap-tiap ucapan tasbih terdapat sedekah; (pada tiap-tiap ucapan takbir terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahlil terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahmid terdapat sedekah); memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah; mencegah perbuatan munkar adalah sedekah; dan kalian bersetubuh dengan istri pun sedekah.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, kok bisa salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, “Bagaimana menurut kalian bila nafsu syahwatnya itu dia salurkan pada tempat yang haram, apakah dia akan mendapatkan dosa dengan sebab perbuatannya itu?” (Mereka menjawab, “Ya, tentu.” Beliau bersabda,) “Demikian pula bila dia salurkan syahwatnya itu pada tempat yang halal, dia pun akan mendapatkan pahala.” (Beliau kemudian menyebutkan beberapa hal lagi yang beliau padankan masing-masingnya dengan sebuah sedekah, lalu beliau bersabda, “Semua itu bisa digantikan cukup dengan shalat dua raka’at Dhuha.”) (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 125).

5. Adanya saling nasehat-menasehati

6. Bisa mendakwahi orang yang dicintai

7. Pahala memberi contoh yang baik
“Siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikit pun. Dan barang siapa yang pertama memberi contoh perilaku jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikit pun.” (HR. Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Orang yang pertama kali melakukan kebaikan atau kejahatan.)

Bagaimana menurut Anda bila ada seorang kepala keluarga yang memberi contoh perbuatan yang baik bagi keluarganya dan ditiru oleh istri dan anak-anaknya? Demikian juga sebaliknya bila seorang kepala keluarga memberi contoh yang jelek bagi keluarganya?

8. Seorang suami memberikan nafkah, makan, minum, dan pakaian kepada istrinya dan keluarganya akan terhitung sedekah yang paling utama. Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah.
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda: “Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.” (HR Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dari Abu Abdullah (Abu Abdurrahman) Tsauban bin Bujdud., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Dinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang kepada keluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk kendaraan di jalan Allah, dan dinar yang dinafkahkan untuk membantu teman seperjuangan di jalan Allah.” (HR. Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Seorang suami lebih utama menafkahkan hartanya kepada keluarganya daripada kepada yang lain karena beberapa alasan, diantaranya adalah nafkahnya kepada keluarganya adalah kewajiban dia, dan nafkah itu akan menimbulkan kecintaan kepadanya.

Muawiyah bin Haidah RA., pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: ‘Wahai Rasulullah, apa hak istri terhadap salah seorang di antara kami?” Beliau menjawab dengan bersabda, “Berilah makan bila kamu makan dan berilah pakaian bila kamu berpakaian. Janganlah kamu menjelekkan wajahnya, janganlah kamu memukulnya, dan janganlah kamu memisahkannya kecuali di dalam rumah. Bagaimana kamu akan berbuat begitu terhadapnya, sementara sebagian dari kamu telah bergaul dengan mereka, kecuali kalau hal itu telah dihalalkan terhadap mereka.” (Adab Az Zifaf Syaikh Albani hal 249).

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash RA., dalam hadits yang panjang yang kami tulis pada bab niat, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadanya: “Sesungguhnya apa saja yang kamu nafkahkan dengan maksud kamu mencari keridhaan Allah, niscaya kamu akan diberi pahala sampai apa saja yang kamu sediakan untuk istrimu.” (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga)

Dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang cukup dianggap berdosa apabila ia menyianyiaka orang yang harus diberi belanja.” (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya.” (Saba’: 39).

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Nabi SAW bersabda: “Setiap pagi ada dua malaikat yang datang kepada seseorang, yang satu berdoa: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya.” Dan yang lain berdoa: “Ya Allah, binasakanlah harta orang yang kikir.” (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).


9. Seorang pria yang menikahi janda yang mempunyai anak, berarti ikut memelihara anak yatim


Janji Allah berupa pertolongan-Nya bagi mereka yang menikah.
1. Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nur: 32)
2. Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)

CINTA DALAM TIMBANGAN ISLAM

Cinta dalam Timbangan Islam

Setiap orang punya persepsi yang berbeda-beda tentang cinta, tergantung pengalaman macam apa yang mereka rasakan berkaitan dengan kata ini. Ada yang menggambarkannya dengan sesuatu yang indah, ada yang biasa-biasa saja, bahkan ada yang menganggapnya sebagai sumber penderitaan. Jadi, penilaian terhadap cinta boleh dibilang bersifat subyektif, tergantung perspektif yang digunakan yang biasanya terkait dengan pengalaman personal masing-masing. Tetapi tentunya ada standar baku dalam memaknai cinta bukan?

Cinta sendiri sering diekspresikan para penyair dalam karya-karyanya. Sifatnya yang universal menjadikannya bahan eksplorasi yang tiada habis. Kekuatannya mampu menembus sekat-sekat yang dibuat manusia berupa pangkat, jabatan, kekayaan, strata sosial dan yang sejenisnya. Kisah seorang pangeran yang mencintai petani, bangsawan yang mencintai rakyat jelata, atau si kaya yang mencintai si miskin sudah bukan barang baru lagi. Walaupun memang terkadang sekat-sekat ini yang menjadi penghalang bersatunya insan yang saling mencintai kedalam ikatan perkawinan. Sebut saja kisah tentang Qois (yang dikenal dengan majnun) dan Laila sebagai contoh. Keduanya adalah korban kebebalan dan belenggu tradisi berupa sekat-sekat tadi.

'The magic word', mungkin istilah yang tepat untuk menggambarkan kata satu ini. Dalam sejarah kita mengenal Antonio, penguasa imperium Romawi yang merupakan imperium terbesar di dunia kala itu, ia mengorbankan tahtanya demi sang kekasih, Cleopatra. Kita juga tahu kisah tentang Mughits yang bercucuran air matanya di sepanjang jalan ketika mengikuti Barirah - istri yang telah dicerainya - karena perasaan cintanya yang begitu mendalam. Sederet contoh lainnya banyak juga bertebaran menghiasi buku sejarah. Begitu hebat kan?

Yang jadi pertanyaan, seperti apa sebenarnya hakikat 'the magic word' ini? Apakah dia sesuatu yang nyata atau sekedar ilusi dan imajinasi semata?

Hakikat Cinta

Ada anggapan yang sering keliru dan terlalu dibuat-buat terhadap para ulama kita (baca: ulama salaf), kebanyakan orang menganggap bahwa mereka adalah orang-orang konservatif yang hanya bergumul dengan permasalahan fikh dan hadits, sehingga sering disebut sebagai ulama tekstual, ulama yang hanya paham tentang permasalahan haid dan nifas saja. Padahal, justru karena begitu tinggi frekuensi mereka dalam menyelami makna-makna Al Qur'an dan Hadits, menjadikan mereka lebih tahu tentang keadaan manusia dan segala permasalahannya, termasuk masalah cinta.

Para ulama kita bersepakat bahwa cinta mempunyai hakekat, bukan sekedar khayalan. Pendapat ini membantah sebagian tokoh barat yang mengatakan bahwa cinta hanya omong kosong belaka yang tidak punya nilai ilmiah, sesuatu yang fiktif, dan tipu daya psikologis yang dapat meracuni otak. Pendapat ini tidak lepas dari paham materialisme yang mereka anut, yakni tidak meyakini sesuatu yang tidak dapat dirasa dan diamati oleh indera (sehingga mereka tidak mengakui keberadaan Allah Azza wa Jalla, wal iyadzu billah).

Pendapat para ulama, seperti Ibnul Qoyyim Al Jauziyah, Ibnu Hazm, Muhammad bin Daud Adz Dzahiri, dan Ibnul Jauzy bertemu pada satu titik yang sama, yakni bahwa cinta merupakan persamaan atau kecocokan jiwa para pencinta. Pendapat ini berpijak pada hadits Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam: ''Ruh itu laksana pasukan yang dikerahkan. Seberapa jauh pasukan itu saling mengenal, sejauh itu pula mereka akan bersatu, dan seberapa jauh mereka tidak saling mengenal, sejauh itu pula mereka akan berselisih.'' (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan lainnya).

Ibnu Hazm mengatakan (sebagaimana dikutip oleh Muhammad Ibrahim Mabrouk dalam ''Cinta dalam Perspektif Islam'') bahwa sesuatu akan saling tarik menarik dengan yang sesuai dengannya. Menurut beliau, semua tingkah laku manusia dengan pasangannya sudah dimaklumi oleh fitrah manusia, maka seseorang akan merasakan ketenangan ketika ia berada dekat dengan kekasihnya. Allah berfirman, ''Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.'' (QS. Al A'raaf: 189).

Kemudian beliau melanjutkan bahwa jika alasan sebuah cinta adalah karena indahnya bentuk tubuh atau secara fisik saja, maka konsekuensinya seseorang tidak akan mencintai orang yang kurang cantik (atau yang lebih jelek darinya). Padahal banyak ditemukan orang yang tertarik dengan yang parasnya tidak begitu cantik. Orang inipun tahu bahwa ada yang lebih cantik dari dia. Meski begitu tidak ditemukan penyimpangan hati dari sang kekasih yang kurang cantik tadi.

Imam Ibnul Jauzi dalam buku yang sama mengatakan bahwa cinta tidak akan terjadi kecuali bagi yang memiliki kesamaan dan kadarnya berkurang atau bertambah sesuai dengan tingkat kecocokannya. Beliau berdalil dengan hadits Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam diatas.

Di tempat yang lain Muhammad Ibrahim Mabrouk mengutip pendapat Ibnul Qoyyim yang mengatakan bahwa setiap orang akan mencurahkan sesuatu kepada seseorang yang sesuai dengan dirinya. Persesuaian yang dimaksud adalah kesamaan akhlak dan ruh serta condongnya setiap jiwa kepada apa yang sesuai dengannya. Maka kesamaan sesuatu akan membuatnya saling mendorong, dan dua jiwa yang bersesuaian bentuk dalam asal penciptaannya akan saling menarik satu sama lain.

Mungkin akan timbul pertanyaan, jika memang penyebab cinta adalah adanya kesamaan watak antara dua pribadi yang berbeda, maka bagaimana bisa terjadi seseorang mencintai si A sementara si A sendiri tidak mencintainya? Alasannya, menurut Ibnul Jauzi, karena tabiat orang yang dicintai terdapat kecocokan dengan tabiat orang yang jatuh cinta tadi, sedangkan tabiat orang yang jatuh cinta itu tidak sesuai dengan apa yang menjadi kecenderungan orang yang dicintai.

Indikasi Adanya Cinta

Pandangan mata kosong, langkah lunglai, dan tidak enak makan karena rindu yang mendalam merupakan identifikasi adanya benih-benih cinta bahkan mengarah pada mabuk cinta (Al 'Isyqu). Sebagian filosof berkata tentang ini (Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Ibnul Qoyim), ''Kerinduan adalah kerakusan yang muncul di dalam hati, yang terus bergerak dan tumbuh, kemudian bisa terarah dan menyatu dengan hasrat. Jika cinta buta ini semakin menguat, maka orang yang mengalamainya akan bertambah tergetar, gundah, dan ingin mendapatkan apa yang diharapkannya, sehingga seringkali menimbulkan keresahan hati dan kekhawatiran. Sudah barang tentu aliran darah saat itu memusat di otak dan jantung.

Jika aliran darah terlalu banyak memusat di otak, maka menimbulkan gangguan pikiran. Jika pikirannya terganggu berarti akalnya sudah tidak terkontrol lagi. Dia bisa mengharapkan apa yang tidak mungkin terjadi, mengangan-angankan apa yang tidak tercapai, sehingga akhirnya bisa menjurus kepada gila. Dalam keadaan seperti itu, boleh jadi orang yang dimabuk cinta bisa bunuh diri atau mati karena merana. Atau dia melihat orang yang dicintainya lalu mati seketika itu pula karena tak mampu menahan luapan kegembiaraan.

Dalam buku yang sama Ibnul Qoyyim menyebutkan tanda-tanda cinta, diantaranya: menghunjamkan pandangan mata, malu jika dipandang orang yang dicintai, banyak mengingat, membicarakan, dan menyebut nama orang yang dicintai, tunduk kepada perintahnya dan mendahulukannya daripada kepentingan sendiri, bersabar menghadapi gangguannya, memperhatikan perkataannya, mencintai tempat dan rumahnya, segera menghampiri yang dicintai, mencintai apa yang dicintai olehnya, jalan terasa pendek sekalipun panjang saat mengunjunginya, salah tingkah jika bertemu, kaget dan bergetar tatkala berhadapan atau mendengar namanya disebut, cemburu, berkorban untuk mendapatkan keridhaan, menyenangi apa yang disenanginya, suka menyendiri, tunduk dan patuh pada orang yang dicintai, helaan napas yang sering dan panjang, menghindari hal-hal yang merenggangkan hubungan dan membuatnya marah, dan adanya kecocokan antara orang yang mencintai dan yang dicintai. Apakah anda terkena salah satunya? :-)

Cinta Buta (Al Isyqu) Tumbuh Karena Inisiatif atau Ketetapan?

Terjadi kontroversi dalam masalah ini sebagaimana yang diuraikan olah Ibnul Qoyyim, ada golongan yang berpendapat bahwa cinta buta tumbuh karena ketetapan dan bukan karena inisiatif pelakunya. Mereka menganalogikan dengan keinginan untuk minum tatkala haus dan keinginan untuk makan tatkala lapar, yang tentu saja keadaan ini tak bisa dibendung. Ibnu Hazm berkata, ada seorang laki-laki berkata pada Amirul Mukminin, Umar bin Al Khattab, '' Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya saya melihat seorang wanita lalu saya sangat cinta padanya.'' Umar berkata, ''Itu adalah sesuatu yang tidak mungkin dibendung.''

At Tamimy berkata dalam Imtizajul Arwah, ''Ada tabib ditanya tentang cinta buta. Maka dia menjawab, ''Tumbuhnya cinta itu bukan karena inisiatif pelakunya, bukan karena keinginannya dan bukan merupakan kenikmatan bagi kebanyakan manusia. Tumbuhnya cinta itu laksana datangnya penyakit yang kronis. Tidak ada perbedaan di antara keduanya.''

Al Mada'iny berkata, ''Seseorang mencela temannya yang jatuh cinta. Maka orang yang dicela itu berkata, ''Andaikata orang yang jatuh cinta itu bisa memilih, tentu aku tidak akan memilih jatuh cinta.''

Sementara golongan yang kedua berkata bahwa yang disebut inisiatif ialah yang mengikuti hawa nafsu dan kehendaknya, atau menguasai nafsu, yang karenanya Allah memuji orang yang bisa menahan dirinya dari bisikan hawa nafsu, sebagaimana firman-Nya, ''Dan, adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran RabbNya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.'' (An Nazi'at: 40-41)

Mereka mengatakan bahwa cinta adalah inisiatif dari jiwa terhadap orang yang dicintai, bukan merupakan ketetapan yang tidak termasuk dalam kesanggupan manusia. Allah mencela orang-orang yang memiliki cinta yang merusak, yaitu mencintai selain-Nya sebagai tandingan. Andaikata cinta itu merupakan takdir, tentunya mereka tidak akan dicela. Karena cinta merupakan kehendak yang sangat kuat, sementara manusia dipuji dan dicela karena kehendaknya, maka pujian diberikan kepada orang yang mempunyai kehendak yang sangat kuat untuk berbuat baik, sekalipun dia belum mengerjakannya.

Sebaliknya, celaan diberikan kepada orang yang berkehendak untuk bebuat kejelekan, sekalipun dia belum mengerjakannya. Allah mencela orang-orang yang senang jika kekejian menyebar di kalangan orang-orang yang beriman, dan mengabarkan bahwa mereka akan mendapatkan adzab yang pedih. Andaikata cinta itu tidak mampu dikendalikan, tentunya mereka tidak akan diancam dengan adzab, karena sesuatu yang berada di luar kesanggupannya. Orang yang berakal sepakat untuk mencela orang yang suka bermain api dengan cinta. Ini merupakan fitrah yang diberikan Allah kepada manusia. Jika ada yang beralasan, bahwa dia tidak sanggup menguasai hatinya, maka alasan itu tidak akan diterima.

Ibnul Qoyyim menengahi kontroversi yang terjadi ini. Beliau berpendapat bahwa kita perlu melihat sebab timbulnya cinta buta tadi. Seperti contohnya orang yang mabuk minum khamr. Perbuatan minum khamr merupakan inisiatifnya sendiri, walaupun akibat yang ditimbulkan, yaitu mabuk, merupakan suatu ketetapan yang pasti terjadi karena mimum khamr. Selagi sebabnya terjadi karena kehendaknya dan merupakan sesuatu yang diperingatkan, maka mabuk itu bukan termasuk sesuatu yang dimaafkan.

Begitu juga dalam masalah cinta. Tidak diragukan lagi bahwa mengumbar pandangan dan mengulur-ulur pikiran, serupa dengan orang yang mabuk karena minum khamr. Dia dicela karena sebabnya. Adapun jika dia melihat secara tidak sengaja, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain, maka cinta yang tumbuh dihatinya karena pandangan seperti ini berada di luar kehendaknya, setelah dia berusaha untuk menepis cinta itu dari hatinya.

Bagaimana Mewujudkan Cinta?

Ada rumusan menarik yang diajukan oleh Muhammad Ibrahim Mabrouk dalam bukunya ''Cinta dalam Perspektif Islam''. Menurutnya cinta + dekat dengan kekasih = tujuan kebahagiaan dan kesejahteraan, dan sebaliknya: cinta + tersekat dari kekasih = cobaan dan ketakutan. Kadar kejauhan seseorang dari kekasihnya akan menentukan kadar kecintaan sepasang kekasih. Cinta dalam keadaan yang selalu berdampingan atau sekedar harapan dalam berdampingan adalah merupakan cinta yang sangat sehat dan kuat. Keinginan untuk dekat dengan orang yang dikasihi bagaikan sebuah mukjizat yang memberikan semangat.

Maka itu, diri seorang yang mencinta selalu menginginkan pertemuan antara dirinya dengan diri orang yang dicintai. Ia tidak memiliki eksistensi lagi kecuali dengan bertemu dengan sang kekasih, dan sesungguhnya dirinya selamanya tidak akan tenang kecuali dengan mengejawantahkan eksistensi dirinya dengan cara berkumpul dengan orang yang dicintai. Karena itu, seorang pencinta akan selalu berbuat apapun demi merealisasikan keinginannya.

Nikah, Sebuah Solusi

Bersatunya sepasang kekasih yang saling mencintai sebagaimana rumusan tadi merupakan tujuan kebahagiaan dah kesejahteraan. Tentunya harus ada ikatan yang sah secara syar'i antara dua insan ini, yaitu dengan jalan pernikahan. Inilah obat penawar yang diberikan Allah kepada hamba-hambaNya, bukan dengan jalan pacaran sebagaimana yang sedang marak saat ini. Berapa banyak kehormatan terkoyak dari hubungan model ini?

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda, ''Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata itu bisa berzina, dan zinanya mata adalah pandangan. Lidah itu bisa berzina dan zinanya adalah perkataan. Kaki itu bisa berzina dan zinanya adalah ayunan langkah. Tangan itu bisa berzina dan zinanya adalah tangkapan yang keras. Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.'' (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, An Nasa'i dan Abu Daud)

Adapun pernikahan merupakan sebuah prosedur yang legal secara syar'i yang semua orang sepakat bahwa inilah cara untuk menjaga kehormatan diri, cara yang manusiawi karena membedakan antara manusia dengan binatang, dan yang diterima dan diakui secara bulat oleh akal yang masih sehat. Dari sini akan dihasilkan sebuah institusi yang mengayomi dan melindungi yang bernama keluarga, bukan institusi ala binatang (baca: kumpul kebo) yang lahir dari hawa nafsu dan rendahnya rasa tanggung jawab.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, ''Dialah yang menciptakan kalian dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.'' (Al A'raf: 189). Dalam riwayat Baihaqi disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda, ''Jika seorang hamba telah menikah, berarti ia telah menyempurnakan setengah dari agamanya. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada setengah lainnya.''

Jadi, rumusan diatas perlu disempurnakan menjadi: Cinta + Pernikahan = Tujuan Kebahagiaan dan Kesejahteraan. Ada yang keberatan? (MT. Aminudin)

Referensi:

1. Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Ibnul Qoyyim Al Jauziyah, Darul Falah, 1419 H

2. Cinta dalam Perspektif Islam Revolusi Melawan Paham Materialisme, Muhammad Ibrahim Mabrouk, Pustaka Azzam, 2002

WASPADAI SEKS BEBAS

Waspadai Seks Bebas Kalangan Remaja

Majalah Gemari, September 2001

Berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Celakanya, perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkawinan. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum baik di pondokan atau kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius. Mungkinkah karena longgarnya control mereka pada mereka? Berikut ini laporan wartawan Majalah Gemari Haris Fadillah dari "Kota Pelajar" Yogyakarta dan Kota Jakarta.

Pakar seks juga specialis Obstetri dan Ginekologi Dr. Boyke Dian Nugraha di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar lima persen pada tahun 1980-an, menjadi duapuluh persen pada tahun 2000.

Kisaran angka tersebut, kata Boyke, dikumpulkan dari berbagai penelitian di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu dan Banjarmasin. Bahkan di pulau Palu, Sulawesi Tenggara, pada tahun 2000 lalu tercatat remaja yang pernah melakukan hubungan seks pranikah mencapai 29,9 persen.

"sementara penelitian yang saya lakukan pada tahun 1999 lalu terhadap pasien yang datang ke Klinik Pasutri, tercatat sekitar 18 persen remaja pernah melakukan hubungan seksual pranikah," kata pemilik Klinik Pasutri ini.

Kelompok remaja yang masuk ke dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 17-21 tahun, dan umumnya masih bersekolah di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau mahasiswa. Namun dalam beberapa kasus juga terjadi pada anak-anak yang duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Tingginya angka hubungan seks pranikah di kalangan remaja erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah aborsi saat ini, serta kurangnnya pengetahuan remaja akan reproduksi sehat. Jumlah aborsi saat ini tercatat sekitar 2,3 juta, dan 15-20 persen diantaranya dilakukan remaja. Hal ini pula yang menjadikan tingginya angka kematian ibu di Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai negara yang angka kematian ibunya tertinggi di seluruh Asia Tenggara.

Dari sisi kesehatan, perilaku seks bebas bisa menimbulkan berbagai gangguan. Diantaranya, terjadi kehamilan yang tidak di inginkan. Selain tentunya kecenderungan untuk aborsi, juga menjadi salah satu penyebab munculnya anak-anak yang tidak di inginkan. Keadaan ini juga bisa dijadikan bahan pertanyaan tentang kualitas anak tersebut, apabila ibunya sudah tidak menghendaki.

Seks pranikah, lanjut Boyke juga bisa meningkatkan resiko kanker mulut rahim. Jika hubungan seks tersebut dilakukan sebelum usia 17 tahun, risiko terkena penyakit tersebut bisa mencapai empat hingga lima kali lipat.

Selain itu, seks pranikah akan meningkatkan kasus penyakit menular seksual, seperti sipilis, GO (ghonorhoe), hingga HIV/AIDS. Androlog Anita Gunawan mengatakan, kasus GO paling banyak terjadi. Penderita bisa saja tidak mengalami keluhan. Tapi, hal itu justru semakin meningkatkan penyebaran penyakit tersebut.

Anita menggolongkan penyakit GO tersebut ke dalam subklinis, kronis dan akut. Subklinis dan kronis, kata anita, tidak menimbulkan gejala serta keluhan pada penderita. Sedangkan GO akut akan menampakan gejala, seperti sulit buang air kecil atau sakit pada ujung kemaluan. "Pada pria biasanya menampakan gejala. Berbeda dengan wanita, seringkali tidak menampakan gejala yang jelas. Paling-paling hanya timbul keputihan atau anyang-anyang," ujarnya.

Bagaimana dengan GO yang sudah parah? Dr Boyke Dian Nugraha menjelaskan, untuk GO yang sudah parah dapat menyebabkan hilangnya kesuburan, baik pada pria maupun wanita. Saluran sperma atau indung telur menjadi tersumbat oleh kuman GO.

Disisi lain, Boyke menambahkan, perilaku seks bebas ini bisa berlanjut hingga menginjak perkawinan. Tercatat sekitar 90 dari 121 masalah seks yang masuk ke Klinik Pasutri (pasangan suami istri)pada tahun 2000 lalu, dialami orang-orang yang pernah melakukan hubungan pranikah (pre marital).

"Masalah seks dengan pasangannya justru dijadikan legistimasi untuk melakukan seks bebas. Bahkan, saat ini, seks bebas sudah menjadi bagian dari budaya bisnis," cetusnya. Factor yang melatarbelakangi hal ini, ujar Boyke, antara lain disebabkan berkurangnya pemahaman nilai-nilai agama. Selain itu, juga disebabkan belum adanya pendidikan seks secara formal di sekolah-sekolah. Selain itu, juga maraknya penyebaran gambar serta VCD porno.

Banyak remaja terjebak

Lalu bagaimana dengan remaja di "Kota Pelajar" Yogyakarta? Berdasarkan survey Pusat Studi Wanita Universitas Islam Indonesia (PSW-UII) Yogyakarta, jumlah remaja yang mengalami masalah kehidupan seks terutama di Yogyakarta terus bertambah, akibat pola hidup seks bebas. Mengapa demikian? "karena pada kenyataannya pengaruh gaya seks bebas yang mereka terima jauh lebih kuat dari pada control yang mereka terima maupun pembinaan secara keagamaan," kata Kepala PSW-UII Dra Trias Setiawati, Msi.

Saat ini, jumlah pelajar di Kota Yogyakarta sebanyak 121.000 orang, atau sekitar 25 persen dari penduduk kota yang terkenal sebagai Kota pelajar yang sebanyak 490.000. Ini, tentunya mendorong makin suburnya bisnis rumah kos di kota ini. Sementara tingkat pengawasan dari pemilik kos di kota ini. Sementara tingkat pengawasan dari pemilik kos maupun pihak orang tua, kata Trias Setiawati, semakin longgar. Sehingga, makin banyak remaja yang terjebak ke dalam pola seks bebas karena berbagai pengaruh yang mereka terima baik dari teman, internet, dan pengaruh lingkungan secara umum.

"Sekuat-kuatnya mental seorang remaja untuk tidak tergoda pola hidup seks bebas, kalau terus-menerus mengalami godaan dan dalam kondisi sangat bebas dari kontrol, tentu suatu saat akan tergoda pula untuk melakukannya. Godaan semacam itu terasa lebih berat lagi bagi remaja yang memang benteng mental dan keagamaannya tidak begitu kuat," dalihnya.

Salah satu upaya untuk menanggulangi maraknya seks bebas di kalangan remaja, khususnya penghuni kos, selain perlu dilakukan pengawasan yang ketat dan intensif dari pemilik kos secara proporsional, juga meningkatkan kesadaran dari orang tua untuk memilihkan tempat kos bagi anak-anaknya yang layak dan aman. "Selain itu, tentu membekali putra-putrinya dengan benteng ajaran agama yang kokoh," ujar Trias saat ditemui di Yogyakarta, belum lama ini.

Pendidikan Kesehatan Reproduksi

Maraknya seks bebas di kalangan remaja membuat banyak pihak sangat prihatin. Salah satunya adalah Ketua Yayasan Sayap Ibu Daerah Istimewa Yogyakarta Ny Hj Ciptaningsih Utaryo. Pasalnya, kata dia, hal itu akan menimbulkan masalah baru bukan hanya bagi wanita remaja itu sendiri, tapi juga pada anak-anak yang akan dilahirkan. Terlebih anak yang lahir tersebut merupakan anak yang dikehendaki, sehingga ada kecenderungan akan ditelantarkan orang tua.

Ditambahkannya, munculnya perilaku seks bebas di kalangan remaja yang marak belakangan ini tidak terlepas dari pengaruh era globalisasi, serta berkaitan erat dengan pengaruh Napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya) atau di Daerah Istimewa Yogyakarta di sebut madat.

Sebagai Yayasan yang perduli dengan anak-anak terlantar, Yayasan Sayap Ibu (YSI) berupaya untuk mengatasi permasalahan anak-anak yang ditelantarkan orangtuannya, yang hingga kini jumlahnya demikian besar. Di Yayasan Sayap Ibu Daerah Istimewa Yogyakarta saja saat ini tercatat sekitar 500 orang anak lebih yang dirawat dan belum mendapatkan orang tua angkat. Bila digabung dengan lain jumlahnya akan mencapai ribuan orang.

Di antara mereka yang dirawat bukan hanya fisiknya yang normal, tapi ada juga diantaranya yang mengalami kecacatan akibat aborsi yang gagal dilakukan orang tuannya. "Karena biasanya orang tua yang hamil di luar nikah akan cenderung mencari jalan pintas untuk menutupi aib yang dideritannya. Padahal , cara ini selain tidak berprikemanusiaan, juga akan menyebabkan beban ganda pada anak-anak yang gagal di aborsi," dalih Ciptaningsih.

Untuk menghindari tindakan aborsi illegal yang dilakukan ibu-ibu yang tidak menginginkan kehamilan, Yayasan Sayap Ibu selain menampung anak-anak yang ditelantarkan orang tuanya, juga mempunyai program merawat ibu-ibu muda yang hamil akibat seks bebas atau kehamilan tidak dikehendaki sampai anak tersebut lahir dengan selamat.

"Upaya yang dilakukan Yayasan Sayap Ibu ini bukannya justru memberikan peluang kepada anak-anak remaja untuk melakukan seks bebas, tapi semata untuk menolong nyawa ribuan generasi muda dari perbuatan tidak berkemanusiaan. Aborsi illegal bukan hanya berbahaya bagi janin, tapi juga nyawa ibu muda itu sendiri. Karena setiap janin berdasarkan kontroversi Hak Anak Internasional perlu dijaga kelangsungan hidupnya," tungkasnya.

Ciptaningsih menegaskan, saat ini untuk menekankan jumlah pelaku seks bebas -terutama di kalangan remaja- bukan hanya membentengi diri mereka dengan unsure agama yang kuat, juga dibentengi dengan pendampingan orang tua Dan selektivitas dalam memilih teman-teman. Karena ada kecenderungan remaja lebih terbuka kepada teman dekatnya ketimbang dengan orang tua sendiri.

Selain itu, sudah saatnya di kalangan remaja diberikan suatu bekal pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah, namun bukan pendidikan seks secara vulgar. "Pendidikan Kesehatan Reproduksi di kalangan remaja bukan hanya memberikan pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual dan sebagainya. Dengan demikian, anak-anak remaja ini bisa terhindar dari percobaan melakukan seks bebas," imbau Ciptaningsih.


TIPS BERUMAH TANGGA MENUJU BAHAGIA

Tips Berumah Tangga Menuju Bahagia!!

Dan dalam menjalani kehidupan rumah tangga, ada baiknya mengikuti tips-tips berikut:

1. Memperhatikan penampilan fisik. Tidak ada yang lebih perhatian terhadap penampilan fisik dibanding Rasulullah SAW. Dalam kehidupan, beliau sangat memperhatikan kesehatan dan perawatan fisik. Jangan menyembunyikan problem barat badan didalam baju yang longgar. Tidak ada yang lebih mengetahui lekuk tubuh istri selain dari suaminya. Cobalah untuk tetap berolah raga, agar tubuh tetap bugar walaupun dengan perkerjaan rumah tangga yang menumpuk. Sehingga tubuh selalu enerjik dan bersemangat, bukan menjadi lamban dan malas karena keberatan badan.

2. Dalam kehidupan berumah tangga, jangan mengabaikan hukum-hukum Islam, tapi juga jangan terlalu kaku dalam menerapkan hukum Islam. Allah menurunkan Islam tidak untuk memberatkan manusia, tetapi untuk kebaikan manusia itu sendiri. Sebagai contoh misalnya, dengan melihat perkembangan jaman dan kebutuhan keluarga, maka boleh saja seorang muslimah mengatur jarak kelahiran atau ber-KB, asalkan dengan tujuan untuk kebaikan dan dengan menggunakan cara yang tidak mengganggu kesehatan tubuh. Jadi KB tidak baik menurut pandangan Islam jika kondisi keluarga tersebut tidak ada yang menghalanginya untuk mempunyai anak dalam jumlah yang banyak, seperti misalnya tidak ada masalah keuangan dan pendidikannya. Lain halnya bila keluarga tersebut mengalami kesulitan dalam masalah keuangan, sehingga dengan jarak kelahiran yang terlalu dekat dan jumlah yang banyak, kebutuhan anak menjadi tidak terpenuhi atau bahkan justru teraniaya. (walaupun untuk masalah KB ini masih kontroversi)

3. Jadilah teman yang menyenangkan bagi suami/istri, memperhatikan hobby dan kesenangannya. Seperti Rasulullah SAW yang senang berlomba lari dengan Aisyah ra. Juga libatkan suami dalam kesenangan istri.

4. Selalu aktif dalam kegiatan islami, untuk memperkuat keyakinan terhadap Islam. Jadi kesibukan rumah tangga jangan dijadikan alasan untuk tidak aktif dalam kegiatan islami. Berusaha menjaga silaturahmi dengan saudara-saudara seiman, juga menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

5. Bersedia mengakui kesalahan dan mudah memaafkan kesalahan pasangan hidupnya. Seringkali dalam kehidupan ber-rumah tangga, terjadi benturan-benturan. Entah kehidupan di dalam atau pun diluar rumah.

6. Mempunyai rasa humor, dibutuhkan sekali-kali untuk mengimbangi kepenatan hidup dan menyegarkan pasangan hidup. Tentu dengan bercanda yang tidak berlebihan dan dengan cara yang baik.

7. Rendah hati terhadap pasangan hidup. Disebabkan oleh adanya perbedaan sifat dasar laki-laki dan wanita, maka sang suami mempunyai sifat ingin melindungi, mengatur, memposisikan diri sebagai kepala keluarga. Oleh karena itu sang istri harus pandai-pandai menempatkan posisi di hadapan suaminya. Jangan merasa lebih dari suami, sehingga mengabaikan bantuan suami, tetapi juga sang suami jangan terlalu tinggi memposisikan dirinya dihadapan sang istri, sehingga tidak terjadi saling merendahkan satu sama lain.

8.Berbagi tugas rumah tangga. Seperti Rasulullah SAW, yang dengan kesibukan sedemikian rupa, tetap dapat membantu istrinya dalam pekerjaan rumah tangga, bahkan mencuci pakaian beliau sendiri.

9.Saling memberikan kejutan, seperti hadiah atau pelayanan ekstra.

10.Saling terbuka dalam mengungkapan perasaan, seperti mengungkapkan betapa cantiknya sang istri atau betapa gantengnya sang suami.

11.Tidak boros dalam keuangan. Menjaga harta suami dan menerima berapa pun pemberian suami tanpa membanding-bandingkan kelebihan atau kekurangan suami sendiri dengan suami orang lain dalam masalah keuangan.

12.Menghormati rahasia pribadi pasangan hidup. Ada kalanya suami atau istri membutuhkan sedikit ruang untuk rahasia pribadinya yang mungkin sulit diungkapkan kepada pasangan hidupnya.

13.Jangan mudah mengungkapan problem rumah tangga terhadap sembarang orang. Jika benar-benar membutuhkan tempat konsultasi, pergi ke saudara seiman yang telah diketahui dapat dipercaya.

14.Sensitif terhadap suasana hati. Jadi, sang istri jangan mengungkapkan suatu masalah kepada suami yang dalam keadaan penat sehabis pulang kerja misalnya, atau pada saat terlihat raut wajah suami yang kusut karena pekerjaan yang tidak selesai-selesai.

SEMUA KARENA CINTA

Semua Karena Cinta

eramuslim Pagi belum lagi tiba, bahkan fajar pun belum menggantikan langit sisa semalam. Segera bangun mendahului ayam jantan yang biasa bertugas memulai hari, bahkan jauh lebih dulu dari petugas masjid sebelum ia membangunkan orang untuk sholat subuh. Aku sudah harus menggigil kedinginan bergumul dengan air kamar mandi. Pagi ini, pagi kemarin dan pagi seterusnya tetap begitu agar tak terlambat tiba di kantor.

Kecup kening istri, usap lembut kepala anak-anak yang masih terbuai mimpi-mimpinya. Usai mengucap salam, diri ini bergegas meninggalkan halaman rumah, membuang sisa kantuk semalam, melangkah cepat menyusuri jalan melewati masjid yang kutinggalkan lebih awal dan menyisakan segelintir hamba Allah yang khusyuk dengan dzikir mereka. Seperti biasa, seringkali kulafazkan dzikirku di perjalanan, sambil merapal beberapa ayat yang masih kuhapal.

Tiba di stasiun kereta api Bogor. Bersyukur jika masih tersisa bangku kosong agar dapat sedikit menuntaskan lelah dan kantuk yang tertunda sejak semalam. Lumayan untuk mengumpulkan energi agar nampak lebih segar tiba di kantor dan meniti hari tanpa menguap. Tapi nyatanya, tak semua yang kita bayangkan akan menjadi kenyataan karena aku lebih sering mendapati kereta dalam keadaan sesak penuh bahkan sebelum kereta beranjak. Maka dimulailah hari demi hari, dan setiap hari dengan berhimpit, berdesak, dan menahan panas, pengap, juga bau keringat ratusan orang di satu gerbong.

Berdiri selama tidak kurang satu jam sebelum tiba di stasiun tujuan, dengan mata terus awas terhadap gangguan tangan jahil. Kalau pun mendapatkan tempat duduk, biasanya tak bisa menikmati dengan bebas karena biasanya baru beberapa menit saja harus tergantikan oleh wanita hamil, ibu yang menggendong anaknya, atau mereka yang lanjut usia dan cacat.

Begitulah aku mengawali pagi. Setiap hari.

Sore. Setelah seharian berkutat dengan tugas-tugas kantor, hampir sama episode yang berlangsung setiap sore dan malam. Adzan maghrib berkumandang sementara kereta belum juga tiba, segera kutinggalkan peron untuk menghadap-Nya. Usai sholat maghrib berlari kembali menuju peron ternyata kereta baru saja lewat dan aku harus menunggu kereta berikutnya seperempat hingga setengah jam ke depan.

Masih dengan suasana yang tak jauh berbeda dengan pagi hari. Berhimpit, berdesak dan menahan keseimbangan, juga berpeluh di tengah kerumunan ratusan orang di sebuah gerbong. Bedanya, aromanya jelas tidak senyaman pagi hari.

Tiba di rumah. Tak jarang kujumpai istriku sudah terlelap lelah setelah seharian mengurus dan mendidik anak-anak. Kuketuk pintu berulang kali. Sekali lagi. Menunggu beberapa saat dan akhirnya, dengan segurat wajah lelahnya istriku membukakan pintu.

Begitulah malam menutup hariku. Setiap hari.

***

Dik, Aku memang harus melupakan banyak waktu bersamamu, melewatkan detik-detik menyenangkan melihat tingkah dan tawa anak-anak. Bahkan aku terlalu sering tak bertemu dengan anak-anak lantaran mereka belum bangun saat aku berangkat dan sudah terlelap sesampainya aku di rumah. Hanya wajah-wajah polos tanpa dosa yang menyambutku dalam lelapnya yang hanya bisa kukecup lembut agar tak membuyarkan mimpinya.

Kulakukan semua itu karena cinta. Cinta kepada Allah yang menganugerahkan cinta dan kehidupan ini, yang memperkenankan aku hidup bersama orang-orang yang mencintaiku. Cinta lah yang tetap membuatku tegar menjalani hidup, seberat apapun itu.

by:Bayu Gautama
bayugautama@yahoo.com
salam cinta buat orang-orang terkasih

MEMAHAMI PSIKOLOGI REPRODUKSI REMAJA

Memahami Psikologi Reproduksi Remaja

Pelayanan kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana (KB) di Indonesia hanya di rancang untuk perempuan telah menikah, tidak untuk remaja. Petugas kesehatan pun belum di bekali dengan keterampilan untuk melayani kebutuhan kesehatan reproduksi remaja.


Masa remaja adalah masa transisi antara kanak-kanak dan dewasa, dan mereka relatif belum mencapai tahap kematangan mental serta sosial sehingga harus menghadapi tekanan emosi, psikologi, dan sosial yang saling bertentangan.


Banyaknya life events tidak saja menentukan kehidupan masa dewasa, tetapi juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga menempatkan masa ini sebagai masa kritis. Di Negara berkembang, masa transisi itu berlangsung sangat cepat. Bahkan usia saat berhubungan seks pertama ternyata selalu lebih muda dari pada usia ideal menikah.


Pengaruh informasi global yang semakin mudah dia akses justru memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiasaan tidak sehat seperti merokok, minum-minuman beralkohol, penyalahgunaan narkotika dan obat berbahaya, perkelahian antar remaja atau tawuran.


Kebutuhan dan jenis risiko kesehatan reproduksi yang dihadapi remaja mempunyai ciri berbeda dari anak-anak ataupun orang dewasa. Jenis risiko kesehatan reproduksi yang harus dihadapi remaja antara lain kehamilan, aborsi, penyakit menular seksual, kekerasan seksual serta masalah keterbatasan akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan.


Risiko ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berhubungan, yaitu tuntutan untuk kawin muda dan hubungan seksual, akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, ketidaksetaraan gender, kekerasan seksual dan pengaruh media massa maupun gaya hidup.


Khusus bagi remaja putri mereka kekurangan informasi dasar mengenai keterampilan menegosiasikan hubungan seksual dengan pasangannya. Mereka memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk mendapatkan pendidikan formal dan pekerjaan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kemampuan pengambilan keputusan. Bahkan pada remaja putri di pedesaan, haid pertama biasanya akan segara diikuti dengan perkawinan yang menempatkan mereka pada risiko kehamilan dini. Kadangkala pencetus perilaku atau kebiasaan tidak sehat pada remaja justru akibat tidak harmonisnya hubungan ayah-ibu, sikap orangtua yang menabukan pertanyaan anak maupun remaja tentang fungsi atau proses reproduksi, dan penyebab rangsangan seksualitas (libido), serta frekuensi tindak kekerasan anak.


WHO memperkirakan, risiko kematian akibat kehamilan pada remaja putrid berusia berusia 15-19 tahun, dua kali lebih tinggi dibandingkan perempuan usia 20-24 tahun. Bahkan pada anak atau remaja putri usia 10-14 tahun, lima kali lebih tinggi dibandingkan pada perempuan usia 20 tahun. Komplikasi kehamilan merupakan penyebab utama kematian remaja putri usia 15-i9 tahun.


Komplikasi kehamilan dan persalinan yang kemungkinan besar akan dihadapi remaja antara lain pre-eklampsia, yaitu naiknya tekanan darah yang melampaui batas normal dan diikuti kejang-kejang. Risiko persalinan macet karena besar kepala anak tidak dapat diakomodasi oleh rongga panggul yang belum berkembang sempurna.
Persalinan dengan robekan vagina menembus hingga ke kandung kemih atau ke dubur. Komplikasi kerusakan otak janin, dan terberat adalah kematian ibu dan anak.


Anak-anak yang dilahirkan dari remaja putri lebih rentan untuk lahir premature memiliki berat badan lahir rendah, mengalami gangguan pertumbuhan ataupun kecacatan. Kematian bayi dan ibu juga sangat tinggi pada usia ibu di bawah 20 tahun.


Survei Demografi dan Kesehatan di 20 negara pada tahun 1998 membuktikan bahwa kematian pada bayi dan balita yang dilahirkan oleh ibu usia 15-19 tahun, 28 lebih tinggi daripada bayi dan balita yang dilahirkan oleh ibu usia 20-29 tahun.


Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional. (Susenas) 1997, lebih dari separuh (54,6 persen) perempuan Indonesia menikah pada usia remaja (10-19 tahun), yaitu 26,3 persen pada usia 10-16 tahun, dan 28,2 persen pada usia 17-18 tahun.


Oleh karena itu, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia menjadi sangat tinggi. Menurut laporan Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995 adalah 373 per 100.000 kelahiran hidup. Besarnya angka ini kemungkinan besar berkaitan dengan banyaknya kasus perkawinan dini yang seringkali akan diikuti dengan kehamilan muda serta risiko-risiko yang dihadapi


Tidak lukus


Pilihan dan keputusan yang diambil seorang remaja sangat tergantung pada kualitas serta kuantitas informasi yang mereka miliki, serta ketersediaan pelayanan dan kebijakan. spesifik untuk mereka, baik formal maupun informal.


Sebagai langkah awal pencegahan, peningkatan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi harus ditunjang dengan materi komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) yang tegas tentang penyebab dan konsekuensi perilaku seksual, apa yang harus dilakukan dan dilengkapi dengan informasi mengenai sarana pelayanan yang tersedia.


Ironisnya, saat ini informasi tentang kesehatan reproduksi disebarluaskan dengan pesan-pesan yang samar dan tidak fokus, terutama bila mengarah pada perilaku seksual.


Di segi pelayanan kesehatan, pelayanan kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana (KB) di Indonesia hanya dirancang untuk perempuan telah menikah, tidak untuk remaja. Petugas kesehatan pun belum dibekali dengan keterampilan untuk melayani kebutuhan kesehatan reproduksi para remaja.


Jumlah fasilitas kesehatan reproduksi yang menyeluruh untuk remaja sangat terbatas. Kalaupun ada, pemanfaatannya relatif terbatas pada remaja dengan masalah kehamilan atau persalinan tidak direncanakan.


Keprihatinan akan jaminan kerahasiaan (privacy) atau kemampuan membayar, dan kenyataan atau persepsi remaja terhadap sikap tidak senang yang ditunjukkan oleh pihak petugas kesehatan, semakin membatasi akses pelayanan lebih jauh, meski pun pelayanan itu ada. Di samping itu, terdapat hambatan legal berkaitan dengan pemberian pelayanan dan informasi kepada kelompok remaja.


Karena kondisinya, remaja merupakan kelompok sasaran pelayanan mengutamakan privacy dan confidentiality. Hal ini menjadi faktor yang sulit, mengingat sistem pelayanan kesehatan dasar di Indonesia masih belum menempatkan kedua hal ini sebagai prioritas, dalam upaya perbaikan kualitas pelayanan yang berorientasi pada klien.


POWER OF LOVE

Kekuatan Cinta

Andai di dunia ini tidak ada cinta, maka hidup akan serasa gersang, hampa dan tidak ada dinamika. Cinta bisa membuat sesuatu yang berat menjadi ringan, yang sulit menjadi sederhana, permusuhan menjadi perdamaian dan yang jauh menjadi dekat. Itulah gambaran kekuatan cinta.

Cinta, ditilik dari sudut manapun selalu menarik untuk dibahas. Sejarah mencatat, sejumlah seniman, teolog sampai filosop membicarakan cinta dari berbagai perspektifnya baik dalam bentuk roman, puisi, syair bahkan sampai dalam bentuk tulisan ilmiah yang bernuansa teologis, fenomenologis, psikologis ataupun sosiologis.

Filosop sekaliber Plato bahkan pernah mengatakan “Siapa yang tidak terharu oleh cinta, berarti berjalan dalam gelap gulita”. Pernyataan ini menggambarkan betapa besar perhatian Plato pada masalah cinta, sampai-sampai dia menyebut orang yang tidak tertarik untuk membicarakannya sebagai orang yang berjalan dalam kegelapan.

Peranan cinta dalam kehidupan tidak diragukan lagi pentingnya. Cinta diyakini sebagai dasar dari perdamaian, keharmonisan, ketentraman, kebahagiaan bahkan kebangkitan peradaban. Namun apa sesungguhnya cinta itu ?
Diakui, problem yang dihadapi saat membicarakan cinta biasanya adalah persoalan definisi. Belum pernah ditemui suatu rumusan tentang cinta yang singkat, padat dan mewakili pemahaman akan hakikat cinta secara tepat.

Jalauddin Rumi pernah mengatakan bahwa cinta itu misteri, tidak ada kata-kata yang bisa mewakili kedalamannya.
Cinta tak dapat termuat dalam pembicaraan atau pendengaran kita,
Cinta adalah sebuah samudera yang kedalamannya tak terukur …
Cinta tak dapat ditemukan dalam belajar dan ilmu pengetahuan,
buku-buku dan lembaran-lembaran halaman.
Apapun yang orang bicarakan itu, bukanlah jalan para pecinta.
Apapun yang engkau katakan atau dengar adalah kulitnya;
Intisari cinta adalah misteri yang tak dapat kau buka !
Cukuplah ! Berapa banyak lagi kau akan lengketkan kata-kata di lidahmu ?
Cinta memiliki banyak penyataan melampaui pembicaraan. . .

Oleh sebab itu, disini kita tidak akan mendefinisikan cinta karena khawatir mereduksi kedalamannya. Biarlah cinta berbicara dalam perbuatan kita. Disini, kita akan mencoba mencermati unsur-unsur yang selalu ada dalam cinta.

Erich fromm, murid kesayangannya Sigmund Freud menyebutkan empat unsur yang harus ada dalam cinta, yaitu :

  1. Care (perhatian). Cinta harus melahirkan perhatian pada objek yang dicintai. Kalau kita mencintai diri sendiri, maka kita akan memperhatikan kesehatan dan kebersihan diri. Kalau kita mencintai orang lain, maka kita akan memperhatikan kesulitan yang dihadapi orang tersebut dan akan berusaha meringankan bebannya. Kalau kita mencintai Allah Swt., maka kita akan memperhatikan apa saja yang Allah ridhai dan yang dimurkai-Nya.
  2. Responsibility (tanggung jawab). Cinta harus melahirkan sikap bertanggungjawab terhadap objek yang dicintai. Orang tua yang mencintai anaknya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan material, spiritual dan masa depan anaknya. Suami yang mencintai isterinya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangganya. Karyawan yang mencintai perusahaannya, akan bertanggung jawab akan kemajuan perusahaannya. Orang yang mencintai Tuhannya, akan bertanggung jawab untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Itulah Responsibility.
  3. Respect (hormat). Cinta harus melahirkan sikap menerima apa adanya objek yang dicintai, kelebihannya kita syukuri, kekurangannya kita terima dan perbaiki. Tidak bersikap sewenang-wenang dan selalu berikhtiar agar tidak mengecewakannya. Inilah yang disebut respect.
  4. Knowledge (pengetahuan). Cinta harus melahirkan minat untuk memahami seluk beluk objek yang dicintai. Kalau kita mencintai seorang wanita atau pria untuk dijadikan isteri atau suami, maka kita harus berusaha memahami kepribadian, latar belakang keluarga, minat, dan ketaatan beragamanya. Kalau kita mencintai Tuhan, maka harus berusaha memahami ajaran-ajaran-Nya.

Kalau empat unsur ini ada dalam kehidupan kita, Insya Allah hidup ini akan bermakna. Apapun yang kita lakukan, kalau berbasiskan cinta pasti akan terasa ringan. Karena itu nabi Saw pernah bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang kalau dia belum mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sensiri”. “ Cintai oleh mu mahluk yang ada di muka bumi, pasti Allah akan mencintaimu”. (HR. Muslim)

Supremasi kebahagiaan tertinggi, kalau kita mampu mencintai orang lain dengan tulus tanpa pamrih, mencintai diri sendiri secara proporsional, mencintai Allah Swt dengan penuh loyalitas dan selalu merasa dincintai-Nya. Inginkah hidup kita bermakna ? Let Love be Your Energy ! Selamat bercinta !

BERBANGGALAH MENJADI LAJANG

Berbahagia Menjadi Lajang

eramuslim, Bagi seorang wanita pada umumnya, melajang dalam usia matang sungguh tak nyaman. Betapa pun, menikah adalah kebutuhan fitrah setiap manusia. Tidak terpenuhinya kebutuhan ini sangat bisa jadi menjadi penyebab guncangan jiwa yang bersangkutan. Ditambah lagi budaya dan paradigma yang berkembang di masyarakat yang memojokkan wanita lajang. Perawan tua, tidak laku dan kalimat-kalimat semacamnya menjadi label bagi mereka yang belum menikah. Belum lagi tuntutan dan pertanyaan dari keluarga dan tetangga kiri-kanan tiap ketemu yang bikin sebal,” Kapan menikah?”

Bagi seorang wanita normal, keluarga dan anak-anak adalah harapan dan cita-cita. Keluarga adalah tempat mengabdi yang membawa ketenangan. Anak-anak adalah amanah yang membawa kebahagiaan. Sangat wajar, jika setiap wanita menginginkan adanya fase menikah dalam hidupnya. Tapi masalahnya, menikah tidak bisa dilaksanakan secara sepihak. Menikah membutuhkan pasangan, yang dalam situasi, kondisi dan masa tertentu tidak mudah ditemukan. Karena kriteria yang tak sepadan, karena kuantitas yang tak terpenuhi, maupun karena takdir belum menentukan. Seperti pada masa sekarang, saat wanita lajang di usia matang hampir menjadi fenomena.

Lantas bagaimana?

Bersabar, menunggu dan bertakwa kepada keputusan Allah. Itu yang banyak saya dengar, dan saya sepakati pula. Hal ini barangkali hikmah diperbolehkannya poligami oleh kaum pria, dan mungkin sudah tiba masanya. Ini pendapat lain, yang saya juga tidak menolaknya. Namun, apakah hanya itu? Saya kira masih ada alternatif lain, yang lebih progresif bukan pasif dan bisa dilakukan secara mandiri oleh seorang wanita. Saya teringat sebuah kisah tentang seorang muslimah perkasa di punggung Gunung Kidul. Wanita itu sangat aktif utamanya dalam kegiatan dakwah dan sosial.

Dengan sepeda motornya ia menjelajahi pelosok desa, mengisi kajian dan memberikan penyuluhan di kampung-kampung miskin dan desa-desa terpencil. Ia menjadi panutan, ia menjadi konsultan, ia menjadi acuan, ia menjadi tempat orang-orang lugu itu meminta nasihat.

Muslimah itu, masih lajang dalam usianya yang 35 tahun. Muslimah itu, mengasuh tiga anak yatim dengan kemampuannya sendiri. Muslimah itu, tidak kesepian karena ia punya ‘keluarga’. Wanita itu tak kehilangan fitrah kewanitaannya karena ia punya ‘anak-anak’ tempat ia mencurahkan cinta dan perhatian. Muslimah itu tidak digugat kesendiriannya karena ia menebar manfaat.

Membaca kisahnya, banyak inspirasi yang bisa diambil oleh kaum wanita, dan saya pun ingin meneladaninya. Apa yang dilakukan muslimah tersebut bisa menjadi salah satu alternatif jawaban atas problema banyaknya wanita-muslimah khususnya- berusia matang yang belum menikah. Apa yang dilakukan si muslimah perkasa, memberikan hikmah yang banyak bagi kemanusiaan.

Jika kita renungan, menjadi lajang bukanlah sebuah aib dan dukacita. Menjadi lajang membuka pintu-pintu amal dan manfaat bagi diri dan masyarakat, seperti halnya yang dilakukan si muslimah.

Seorang wanita lajang akan lebih mudah bergerak dan beraktifitas karena ia tak dibebani tugas-tugas kerumahtanggaan. Seorang wanita lajang akan bisa lebih banyak berbakti kepada masyarakat dengan modal waktu, peluang dan kemampuan yang ia miliki. Berapa banyak selama ini aktifitas sosial masyarakat yang mandeg karena ditinggal penghasungnya (yang seorang wanita) menikah? Berapa banyak aktifitas yang masih terus berkembang karena penyandangnya ‘alhamdulillah’ masih lajang dan punya waktu banyak untuk berkomitmen?

Lantas bagaimana memenuhi kebutuhan fitrah sebagai wanita? Bukankah pintu tebuka lebar juga? Lihat, betapa banyak anak-anak di dunia ini yang butuh asuhan, pendidikan dan usapan tangan lembut kaum wanita? Apalagi di Jakarta yang sedemikian tua dan menyimpan banyak problema terutama berkaitan dengan anak jalanan, anak miskin, anak yatim dan anak-anak yang kurang dalam pendidikan dan asuhan.

Dalam kesendirian dan kemandirian kaum wanita, barangkali Allah memang mengirimkan mereka untuk anak-anak tak mampu, untuk dididik, untuk diasuh. Mereka adalah anak-anak kita juga, begitu Emha Ainun Najib pernah mengatakan dalam salah satu tulisannya di buku Markesot Bertutur. Anak-anak sesungguhnya adalah anak-anak dunia, amanah dari Allah yang mesti dijaga. Sekalipun mereka tidak lahir dari rahim kita.

Saya percaya, selalu ada hikmah di balik setiap realitas yang ditetapkan Allah. Banyaknya wanita lajang pada masa sekarang, mungkin karena Allah menginginkan adanya tangan–tangan terampil, pribadi-pribadi lembut namun perkasa untuk menanggung sebagian beban dunia. Tugas itu diantaranya adalah mengasuh anak-anak yatim, anak-anak jalanan, anak-anak tetangga yang kurang perhatian dan kurang pendidikan moral. Tugas itu diantaranya adalah ikut membenahi kerusakan sosial, kemiskinan, buruknya pendidikan dan aktifitas publik lainnya yang membutuhkan komitmen waktu, kemampuan dan kemandirian seorang wanita.

Mereka butuh kita, para wanita lajang yang mandiri, yang sanggup menafkahi diri sendiri dan orang lain. Yang memiliki perhatian dan kemauan lebih untuk all out terhadap aktifitas yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh para wanita yang sudah berumahtangga. Kita bisa tetap memiliki keluarga, meski bukan karena pernikahan. Kita dapat memiliki makna, meski bukan dengan car menjadi ibu rumah tangga. Kita mampu bisa menjadi manusia seutuhnya melalui usaha kita sendiri, tanpa harus meminta pengertian semua orang, tanpa perlu menuntut dan meminta para lelaki untuk menikahi dan berpoligami. Sekarang tinggal kita tinggal memilih: Mengadopsi anak dari panti asuhan, anak jalanan, anak tetangga? Atau ikut berpartisipasi menjadi orang tua asuh, mendidik anak jalanan, anak-anak TPA, anak tetangga, keponakan, mendirikan taman bacaan? Atau bahkan ‘hanya’ sesedikit apapun, berkontribusi terhadap komunitas dan masyarakat. Mereka adalah juga ‘keluarga’ kita. (azi_75@yahoo.com, tulisan ini sama sekali bukan mendorong kaum wanita untuk melajang).

30 TANDA JATUH CINTA

30 Tanda Jatuh Cinta

Rasa jatuh cinta sukar digambarkan mahu pun diucapkan dengan kata-kata. Siapa yang jatuh cinta akan sentiasa diusik perasaan. Semua menjadi indah dan membahagiakan. Namun mengalami cinta umpama bermain api. Jika tahu mengendalikannya, selamat diri. Jika tidak, terbakar hangus dan merana diri. Remaja dan belia bahkan yang sudah berumahtangga pun akan mengalami cinta. Semuanya kerana cinta tidak mengenal usia dan latar belakang. Cinta boleh terjadi bila-bila masa. Jadi bagaimana mengenali bila dan bagaimana seseorang itu dihinggapi rasa cinta? Cuba semak 30 tanda jatuh cinta di bawah ini supaya dapat melengkapi diri sebelum menghadapi atau menangkisnya. Terpulang sama ada mahu teruskan pemburuan cinta, mengalami percintaan atau menghindari cinta. Asalkan anda bahagia.

1. Sukar melelapkan mata
Biasanya anda jarang mengalami masalah untuk tidur. Kali ini, sejak bertemu dan berkenalan dengannya ingatan anda kepada si dia kian menebal hingga mengganggu tidur anda.

2. Perasaan sentiasa berdebar
Perasaan anda sentiasa berdebar-debar jika bertembung dengan si dia di jalan. Malah anda jadi kelam kabut dan menggeabah apabila dia menghampiri anda.

3. Suka ambil tahu
Anda semakin berminat untuk ambil tahu tentang latar belakang dan perkembangan si dia. Anda tekun mendengar cerita mengenai si dia dan sering bertanya tentang si dia dari kawan-kawannya.

4. Resah gelisah
Hati anda merasa resah dan gelisah bila si dia tidak kelihatan. Anda tercari-cari kalau-kalau terlihat kelibat bayangnya.

5. Dihinggapi cemburu
Anda mula merasa cemburu bila si dia berbual dan melayan kehadiran orang lain sekalipun kawan-kawanya. Ikutkan hati anda, biarlah dia berbual dan melayan anda seorang. Sikap anda itu ketara kelihatan sehingga disedari kawan-kawan anda sendiri.

6. Hobi baru, termenung
Bila tidak melakukan sesuatu, anda segera termenung. Fikiran anda jauh melayang dan pancaindera anda tertutup untuk menyedari hal-hal yang berlaku di sekeliling anda. Di mata anda terbayang-bayang wajah si dia dan anda berada di sampingnya.

7. Dating
Ada sahaja alasan anda ajukan kepadanya untuk berjumpa. Kemudian secara terang, anda tawarkan keluar bersama. Kesempatan yang terluang atau di hari cuti pasti anda habiskan untuk dating. Kadang-kadang anda buat temujanji lagi di waktu malam sekalipun baru petang tadi anda berdua sudah berjalan-jalan.

8. Rindu.
Anda tidak dapat mengawal perasaan. Setiap saat mengingati si dia, bagaikan terdengar suaranya sayup-sayup di telinga. Apapun yang dipandang akan mengingatkan anda kepada si dia. Anda ingin berjumpa dan melihat wajahnya.

9. Bergayut di telefon
Sekalipun bayaran telefon mahal, anda sanggup menghabiskan masa berjam-jam sehingga terjejas masa tidur anda hanya untuk berbual kosong dengan si dia. Anda tidak peduli kalau bil meningkat atau perlu beli kad telefon banyak-banyak. Yang penting dapat dengar suaranya untuk melepaskan rindu. Lagipun anda baru lena tidur setelah mendengar suara si dia.

10. Berubah citarasa
Kehadiran si dia berjaya mengubah citarasa anda tentang pelbagai perkara. Sejak kebelakangan ini, anda lebih berminat untuk menghayati senikata lagu-lagu berirama sentimental yang bertemakan percintaan. Sebelum ini anda lebih gemar mendengar irama rock, heavy metal dan hip hop.

11. Memberi hadiah
Anda memberi si dia hadiah padahal hari lahirnya masih jauh. Anda peka dengan perkembangan semasanya supaya dapat dijadikan alasan untuk memberikan hadiah. Malah, tiap bulan anda memberikannya hadiah sekalipun harus berbelanja besar. Yang pasti, anda akan memberikan hadiah yang paling istimewa di hari lahirnya nanti.

12. Awal ke tempat kerja
Sejak menaruh minat kepadanya, anda lebih bersemangat untuk datang ke pejabat malah datang lebih awal lagi. Anda harapkan ada peluang anda berbual berdua dengannya atau sarapan pagi bersama di kantin.

13. Lebih rajin
Prestasi kerja anda semakin men ingkat jika dibandingkan sebelum ini. Anda jadi lebih semangat, kreatif dan berfikiran positif. Perkembangan anda yang membanggakan itu disenangi kawan-kawan dan majikan.

14. Menjaga penampilan
Penampilan anda tidak lagi ringkas dan sederhana. Meskipun anda lelaki, anda akan mengunjungi salon kecantikan untuk potongan rambut yang bergaya dan rawatan muka. Pakaian anda berubah corak menjadi lebih menjurus kepada fesyen mutakhir. Wajah berhias dengan mekap hingga nampak mempersona. Dari rambut ke hujung kaki anda cantik menawan dan segak bergaya.

15. Defensif
Maknanya anda melakukan pembelaan. Pantang orang lain salah cakap atau sekadar mengusik, anda akan mempertahankan si dia meskipun sampai anda marah dan timbul permusuhan. Ada masanya percakapan mereka itu ada kebenarannya, tetapi anda tetap bersikap defensif.

16. Merajuk
Sedikit salah, sedikit silap anda lekas merajuk. Anda sanggup tidak makan tengahari atau tidak menegur sapa selagi si dia tidak menegur dan meminta maaf. Anda juga terus merajuk sehingga dia berkali-kali memujuk.

17. Mudah bersalah sangka
Anda mudah merasa hampa lalu kecewa jika kemahuan atau permintaan anda tidak dipenuhi. Misalnya si dia tidak hadir temujanji, anda sangka dia mungkir janji. Anda anggap dia tidak memberi perhatian dan tidak mempunyai perasaan.

18. Sentiasa kata ‘Ya’
Apa pun katanya, pendapatnya dan permintaannya, anda jawab dengan ‘Ya’. Anda sentiasa akur dan menurut sekalipun ada di antara permintaannya yang keterlaluan dan pendapatnya kurang anda senangi.

19. Sanggup berkorban
Untuk si dia sanggup bersusah payah melakukannya semuanya. Dengan rela hati anda jadi pemandu peribadinya, jadi orang suruhan, meluangkan diri anda untuknya di hari cuti dan memenuhi setiap permintaannya.

20. Jadi orang lain
Tiba-tiba anda jadi pelakon yang terbaik kerana mahu memenuhi cirri-ciri peribadi yang menjadi idaman si dia. Di depannya anda seorang romantik dan berlemah lembut sekaipun kenyataannya anda seorang yang kasar dan mudah marah. Demi si dia, anda sanggup berubah menjadi orang lain.

21. Prihatin
Anda bukan hanya ambil tahu malah sentiasa menghulurkan tangan membantu. Anda akan pastikan si dia tidak mengalami sebarang masalah dalam kehidupan sehariannya dan menjamin kebajikan dan keselamatannya.

22. Berkhayal
Potret wajah si dia jadi teman setia di waktu keseorangan. Ada masanya anda habiskan masa hanya merenung wajahnya di potret sambil berangan-angan jauh. Berkhayal seperti itu anda rasa bahagia.

23. Inginkan persamaan
Sejak mengenali si dia anda berusaha mengikuti kegemaran dan citarasa untuk mempamerkan anda meminatnya. Anda akan mengemari filem dan lagu Hindustan, masakn barat dan meniru setiap tingkah lakunya. Anda mahukan wujud persamaan anda dengan si dia.

24. Sumber ilham
Kata-katanya menjadi pendorong semangat. Anda sedari bahawa anda mempunyai kemampuan untuk melangkah jauh dan mengejar cita-cita anda. Rupanya anda ada kelebihan tersendiri yang baru anda sedari. Si dialah yang membuka minda anda. Dialah sumber ilham anda.

25. Pasang impian
Anda sering termenung membayangkan impian masa depan anda bersama dia. Selalu berdua ke mana sahaja, lalu mendirikan rumahtangga, mempunyai sejumlah anak yang comel dan tinggal dalam sebuah rumah idaman bersama. Anda dan dia sama-sama susah dan senang dalam menjayakan cita-cita sekeluarga.

26. Suka memuji
Dari pendiam anda jadi seorang yang ramah mesra dan suka memuji. Anda peka dengan penampilan si dia dan lekas memberikan pujian dan sanjungan. Hati anda rasa berbunga-bunga dapat memuji dan apalagi kalau dia merasa bangga dan senang hati oleh puji-pujian anda.

27. Mulut manis
Anda hanya berkata hal-hal yang baik sahaja ketika bersamanya. Anda akan bersetuju dan mendukung percakapannya sekaipun tidak anda sukai. Tujuannya kerana anda tidak mahu menyinggung perasaan. Tambahan anda tidak mahu menjejaskan perhubungan yang baru berputik itu.

28. Tanda ingatan
Anda memberikan sesuatu yang istimewa seba gai tanda ingatan. Jika buku diberikan, anda akan tulis sedikit kata-kata di dalamnya sebagai renungan atau kenangan. Di hari raya anda hulurkan kad raya atau kad ucap selamat di hari lahirnya. Sekalipun tidak berterus-terang, dari kata-kata yang tercoret di dalam buku dan kad dapat mencerminkan luahan isi hati anda terhadapnya.

29. Inginkan perhatian
Anda selalu mengharapkan si dia memberikan perhatian dan mahu meluangkan masa bersama anda. Walaupun anda tidak mahu menyusahkan si dia, namun sedikit perhatian yang diberikannya sudah cukup menggembirakan hati dan anda hargai.

30. Bertekad memilikinya
Secara drastik, anda berhasrat untuk memilikinya. Apapun keadaan dirinya, anda pasrah dan menerima. Anda ingin selalu di sampingnya, menjadi teman hidupnya sehidup semati.

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme