MEMAHAMI PSIKOLOGI REPRODUKSI REMAJA

Memahami Psikologi Reproduksi Remaja

Pelayanan kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana (KB) di Indonesia hanya di rancang untuk perempuan telah menikah, tidak untuk remaja. Petugas kesehatan pun belum di bekali dengan keterampilan untuk melayani kebutuhan kesehatan reproduksi remaja.


Masa remaja adalah masa transisi antara kanak-kanak dan dewasa, dan mereka relatif belum mencapai tahap kematangan mental serta sosial sehingga harus menghadapi tekanan emosi, psikologi, dan sosial yang saling bertentangan.


Banyaknya life events tidak saja menentukan kehidupan masa dewasa, tetapi juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga menempatkan masa ini sebagai masa kritis. Di Negara berkembang, masa transisi itu berlangsung sangat cepat. Bahkan usia saat berhubungan seks pertama ternyata selalu lebih muda dari pada usia ideal menikah.


Pengaruh informasi global yang semakin mudah dia akses justru memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiasaan tidak sehat seperti merokok, minum-minuman beralkohol, penyalahgunaan narkotika dan obat berbahaya, perkelahian antar remaja atau tawuran.


Kebutuhan dan jenis risiko kesehatan reproduksi yang dihadapi remaja mempunyai ciri berbeda dari anak-anak ataupun orang dewasa. Jenis risiko kesehatan reproduksi yang harus dihadapi remaja antara lain kehamilan, aborsi, penyakit menular seksual, kekerasan seksual serta masalah keterbatasan akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan.


Risiko ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berhubungan, yaitu tuntutan untuk kawin muda dan hubungan seksual, akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, ketidaksetaraan gender, kekerasan seksual dan pengaruh media massa maupun gaya hidup.


Khusus bagi remaja putri mereka kekurangan informasi dasar mengenai keterampilan menegosiasikan hubungan seksual dengan pasangannya. Mereka memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk mendapatkan pendidikan formal dan pekerjaan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kemampuan pengambilan keputusan. Bahkan pada remaja putri di pedesaan, haid pertama biasanya akan segara diikuti dengan perkawinan yang menempatkan mereka pada risiko kehamilan dini. Kadangkala pencetus perilaku atau kebiasaan tidak sehat pada remaja justru akibat tidak harmonisnya hubungan ayah-ibu, sikap orangtua yang menabukan pertanyaan anak maupun remaja tentang fungsi atau proses reproduksi, dan penyebab rangsangan seksualitas (libido), serta frekuensi tindak kekerasan anak.


WHO memperkirakan, risiko kematian akibat kehamilan pada remaja putrid berusia berusia 15-19 tahun, dua kali lebih tinggi dibandingkan perempuan usia 20-24 tahun. Bahkan pada anak atau remaja putri usia 10-14 tahun, lima kali lebih tinggi dibandingkan pada perempuan usia 20 tahun. Komplikasi kehamilan merupakan penyebab utama kematian remaja putri usia 15-i9 tahun.


Komplikasi kehamilan dan persalinan yang kemungkinan besar akan dihadapi remaja antara lain pre-eklampsia, yaitu naiknya tekanan darah yang melampaui batas normal dan diikuti kejang-kejang. Risiko persalinan macet karena besar kepala anak tidak dapat diakomodasi oleh rongga panggul yang belum berkembang sempurna.
Persalinan dengan robekan vagina menembus hingga ke kandung kemih atau ke dubur. Komplikasi kerusakan otak janin, dan terberat adalah kematian ibu dan anak.


Anak-anak yang dilahirkan dari remaja putri lebih rentan untuk lahir premature memiliki berat badan lahir rendah, mengalami gangguan pertumbuhan ataupun kecacatan. Kematian bayi dan ibu juga sangat tinggi pada usia ibu di bawah 20 tahun.


Survei Demografi dan Kesehatan di 20 negara pada tahun 1998 membuktikan bahwa kematian pada bayi dan balita yang dilahirkan oleh ibu usia 15-19 tahun, 28 lebih tinggi daripada bayi dan balita yang dilahirkan oleh ibu usia 20-29 tahun.


Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional. (Susenas) 1997, lebih dari separuh (54,6 persen) perempuan Indonesia menikah pada usia remaja (10-19 tahun), yaitu 26,3 persen pada usia 10-16 tahun, dan 28,2 persen pada usia 17-18 tahun.


Oleh karena itu, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia menjadi sangat tinggi. Menurut laporan Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995 adalah 373 per 100.000 kelahiran hidup. Besarnya angka ini kemungkinan besar berkaitan dengan banyaknya kasus perkawinan dini yang seringkali akan diikuti dengan kehamilan muda serta risiko-risiko yang dihadapi


Tidak lukus


Pilihan dan keputusan yang diambil seorang remaja sangat tergantung pada kualitas serta kuantitas informasi yang mereka miliki, serta ketersediaan pelayanan dan kebijakan. spesifik untuk mereka, baik formal maupun informal.


Sebagai langkah awal pencegahan, peningkatan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi harus ditunjang dengan materi komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) yang tegas tentang penyebab dan konsekuensi perilaku seksual, apa yang harus dilakukan dan dilengkapi dengan informasi mengenai sarana pelayanan yang tersedia.


Ironisnya, saat ini informasi tentang kesehatan reproduksi disebarluaskan dengan pesan-pesan yang samar dan tidak fokus, terutama bila mengarah pada perilaku seksual.


Di segi pelayanan kesehatan, pelayanan kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana (KB) di Indonesia hanya dirancang untuk perempuan telah menikah, tidak untuk remaja. Petugas kesehatan pun belum dibekali dengan keterampilan untuk melayani kebutuhan kesehatan reproduksi para remaja.


Jumlah fasilitas kesehatan reproduksi yang menyeluruh untuk remaja sangat terbatas. Kalaupun ada, pemanfaatannya relatif terbatas pada remaja dengan masalah kehamilan atau persalinan tidak direncanakan.


Keprihatinan akan jaminan kerahasiaan (privacy) atau kemampuan membayar, dan kenyataan atau persepsi remaja terhadap sikap tidak senang yang ditunjukkan oleh pihak petugas kesehatan, semakin membatasi akses pelayanan lebih jauh, meski pun pelayanan itu ada. Di samping itu, terdapat hambatan legal berkaitan dengan pemberian pelayanan dan informasi kepada kelompok remaja.


Karena kondisinya, remaja merupakan kelompok sasaran pelayanan mengutamakan privacy dan confidentiality. Hal ini menjadi faktor yang sulit, mengingat sistem pelayanan kesehatan dasar di Indonesia masih belum menempatkan kedua hal ini sebagai prioritas, dalam upaya perbaikan kualitas pelayanan yang berorientasi pada klien.


0 Response to "MEMAHAMI PSIKOLOGI REPRODUKSI REMAJA"

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme